Selasa, 05 Juni 2012

Semangat ASI untuk Akhtar

Alloh ‘azza wa jalla berfirman :
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.........." [QS al-Baqoroh : 233]


Sejak dulu (susah mengingat kapan persisnya, mungkin sejak tau saya hamil, atau mungkin sejak sebelum menikah, atau sejak kampanye ASI ekslusif digalakkan, atau sejak pertama membaca artikel manfaat ASI ekslusif, atau mungkin sejak lama sebelum itu) saya menanamkan niat dalam hati "Saya harus memberikan ASI ekslusif untuk anak saya!".

Niat ini bukannya mudah untuk dijalani. Dari awal saya sudah sering membaca beratnya perjuangan seorang ibu yang memiliki niat sama seperti saya. Rintangan datang dari banyak hal. Dari diri sendiri (jumlah ASI yang diproduksi dianggap tidak memadai, kurangnya kepercayaan diri kalau si ibu mampu), dari keluarga (terutama ibu dan mertua yang terbiasa memberikan susu formula),  atau dari lingkungan (saudara,teman atau orang lain yang menganggap tidak akan cukup seorang bayi hanya minum ASI), dan masih banyak lagi yang membuat niat itu hanya menjadi sekedar niat.

Belajar dari pengalaman mereka saya mulai menyiapkan diri. Beruntung saya hidup di "dunia" yang cukup mendukung. Pemerintah sudah gencar melancarkan kampanye ASI ekslusif  sehingga memberikan pengertian ke orang-orang sekitar menjadi lebih mudah. Dukungan dari keluarga sudah tidak dipertanyakan lagi. Suami saya mendukung 1000% (Suamiku paling baikkkkkk sedunia). Ibu dan ibu mertua juga mendukung penuh niat saya ini. Semakin mantap rasanya niat ini.


Saat saya hamil, ada 7 ibu-ibu lain di kantor saya yang juga sedang hamil (kakak saya bilang "kata orang tahun 2010 tuh tahun kelinci jadi banyak yang hamil..hehe).  Mereka juga punya niat yang sama (ASI ekslusif untuk si jabang bayi).  Kita sering berbagi informasi (tiap hari kalau ngumpul di mushola tuh yang diomongin soal kehamilan terus,,orang2 lain mungkin ampe bosen dengernya). Segala hal, mulai dari memompa dengan tangan atau dengan pompa asi (cuma satu yang berhasil memompa pakai tangan..prok..prok..prok buat Mba Nina), merek pompa asi yang recomended (pilihan jatuh pada medela tapi saya pakai avent berhubung dikadoin itu ama temen2 kuliah..hihi) , wadah penyimpanan asi yang efisien (botol kaca rata2 jadi pilihan kami, berhubung suami saya punya temen yang menjual botol itu jadilah saya penyuplai botol kaca di kantor (tapi ga ambil untung kok..hehe)), sampai pergi ke klinik laktasi bareng buat belajar pijat payudara (cuma Ida sama Mbak Yanti yang akhirnya bener2 kesampaian pergi..hehe). Ketika punya teman dengan niat yang sama, semangat jadi makin terpacu rasanya.


Hal yang juga penting adalah menemukan Rumah Sakit dengan dokter dan perawat yang juga mendukung ASI ekslusif. Beberapa teman saya menghadapi pengalaman tidak menyenangkan karena anaknya yang baru lahir sudah diberi susu formula tanpa sepengetahuannya. Saat hamil saya memeriksa kandungan saya di RS Islam Cempaka Putih dan saya berencana melahirkan disana juga. Pertimbangan saya saat itu karena RS ini dekat dan bisa ditanggung oleh Askes sebagian (maklumlah PNS,,asuransi kesehatannya ga bisa disembarang tempat..hehe). Setelah tanya2 ke dokter, perawat dan petugas rawat inap ternyata jawabannya positif sekali. Di RS ini diterapkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), ASI ekslusif dan bayi dirawat gabung dengan ibu (bayi disarankan selalu berada disamping ibu dalam hari2 pertama kehidupannya). Fasilitas sudah terpenuhi. Sekarang tinggal pelaksanaan.

Setelah 38 minggu 3 hari mengandung, lahirlah Muhammad Akhtar Hakim. Akhtar dilahirkan secara operasi ceasar karena saat itu mulas saya menghilang padahal pembukaan sudah lengkap, dokter juga melihat saya sudah terlalu lelah untuk mengejan dan detak jantung Akhtar mulai tidak beraturan. Satu masalah yang timbul dari operasi ceasar adalah biasanya ASI si ibu tidak langsung keluar (dan itu terjadi pada saya). Selama 2 hari awal kehidupannya Akhtar tidak makan atau minum apapun.ASI saya tidak keluar, hampir putus asa rasanya. Dokter anak yang merawat Akhtar, meyakinkan bahwa setiap ibu yang melahirkan insya Allah diberikan kemampuan untuk menyusui anaknya. Dokter terus meyakinkan saya bahwa bayi dapat bertahan dengan "bekal" yang dia bawa dari kandungan selama 3 hari dan  paling lama dalam 3 hari insya Allah ASI saya pasti keluar. Dokter meminta saya untuk bersabar sambil terus menyuruh agar Akhtar tetep disusui walaupun ASI belum keluar (kata dokternya, bayi yang menghisap akan merangsang keluarnya ASI). Setelah 2 hari, ibu mertua saya yang tidak tega mendengar anak saya menangis terus dan hanya menghisap puting tanpa cairan akhirnya memohon kepada perawat untuk memberikan susu formula kepada cucunya. Beruntung RS menetapkan peraturan yang ketat soal ASI esklusif. Keluarga yang ingin memberikan susu formula harus membeli sendiri susu formulanya dan menandatangi pernyataan (kayaknya pernyataan bahwa bukan RS yang menggagalkan program ASI ekslusif ini). Akhirnya ibu mertua saya menyerah dan memutuskan untuk menunggu setidaknya 1 hari lagi (dokter bilang biasanya 3 hari). Alhamdulillah, pada malamnya ASI saya keluar!. Akhtar mulai menyusu dengan semangat (mungkin dia kelaparan setelah puasa 2 hari 2 malam..hehe).

Sekarang Akhtar sudah berumur 13 bulan 6 hari dan Alhamdulillah masih menyusu ASI dan belum minum susu formula. Saya masih berniat menyempurnakan penyusuan ini hingga 2 tahun. Tidak mudah memang, tapi kalau kita bersungguh-sungguh pasti akan berhasil (kayak judul film yah...manjadda wajadda).
SEMANGAT ASI....!!!! :-)